Langsung ke konten utama

Postingan

Sejarah kawasan hutan konservasi TWA Bukit Kaba :

Mardiansyah / Polhut Pertama Sumber : Peta TWA Bukit Kaba (BKSDA Bengkulu) Taman Wisata Alam (TWA) Bukit Kaba adalah salah satu kawasan konservasi yang pengelolaannya di bawah Balai KSDA Bengkulu yang tujuan penunjukan dan/atau penetapannya karena keadaan alamnya mempunyai berbagai keindahan alam, baik keindahan flora dan fauna maupun keindahan alam itu sendiri yang mana memiliki keunikan corak untuk kepentingan rekreasi dan kebudayaan Sejarah Sejarah kawasan hutan konservasi TWA Bukit Kaba : Pemerintahan Hindia Belanda menetapkan Hutan Lindung Bukit Kaba seluas 13.490 ha melalui Surat Keputusan Resident Benkoelen Nomor 4 tanggal 4 September 1926. Kemudian, kawasan ini ditunjuk ulang sebagai kawasan hutan melalui Surat Keputusan oleh Menteri Kehutanan Nomor: 383/KPTS-II/1985 tanggal 27 Desember 1985 tentang Penunjukan Areal Hutan di Wilayah Provinsi Dati I Bengkulu seluas ± 1.157.045 ha sebagai Kawasan Hutan. Selanjutnya, terjadi perubahan status Hutan Lindung Buk...

BKSDA Bengkulu : Tugas pokok dan fungsi organisasi

Mardiansyah,S.P / Polhut Pertama Sebagai salah  satu media sosialisasi dan penyebarluasan informasi tentang Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.  Berikut ini dijelaskan tentang Tugas Pokok dan Fungsi Organisasi yang bernama BKSDA BENGKULU. Tugas pokok dan fungsi organisasi Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bengkulu merupakan unit pelaksana teknis (UPT) Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Tugas pokok dan fungsi Balai KSDA Bengkulu diatur dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.08/MenLHK/2015 tanggal 29 Januari 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Konservasi Sumber Daya Alam.  Wilayah kerja Wilayah kerja Balai KSDA Bengkulu meliputi Provinsi Bengkulu dan Lampung. Balai KSDA Bengkulu mengelola 36 kawasan konservasi dengan luas total ± 84.237,64 Ha yang tersebar di kedua provinsi tersebut. Dari jumlah tersebut, ...

Meggunakan Metode Management Effectiveness Tracking Tool (METT) di Kawasan Hutan Konservasi

Oleh : Mardiansyah Tim Fasilitator METT di BKSDA Bengkulu Dalam Kementerian LHK (2017), bahwa sistem monitoring yang digunakan dalam rangka tindaklanjut dan sejalan dengan Program of Work (PoW) Convention on Biodiversity (CBD) tahun 2004, bahwa setiap negeri yang meratifikasi CBD diharuskan untuk mengikuti pada 4 tujuan (goal) dalam dokumen tersebut.  Metode yang digunakan di Indonesia adalah Metode Management Effectiveness Tracking Tool (METT) proses penilaian dilakukan dengan mengisi kuisioner yang terdiri dari : Lampiran 1.  Laporan Kemajuan Situs Kawasan Konservasi. Berisi detil penilain dan informasi dasar tentang situs seperti nama, ukuran, lokasi, dll. Lampiran 2.  Data Ancaman Kawasan Konservasi. Berisi daftar generic ancaman yang dihadapi kawasan konservasi. Lampiran 3.  Lembar Penilaian Efektifitas Pengelolaan Kawasan Konservasi Daratan ( terresretial ). Lembar penilaian dengan sekitar 30 pertanyaan dalam format tabel, termasuk tiga kolom...

BKSDA Bengkulu mengadakan kegiatan Lomba Lintas Alam (LLA) di TWA BUKIT KABA

Mardiansyah, S.P / Polhut Pertama Curup, 30 November 2019. BKSDA Bengkulu, Seksi Konservasi Wilayah I, KPHK Bukit Kaba, mengadakan kegiatan Lomba Lintas Alam (LLA) di TWA BUKIT KABA  dilaksanakan pada tanggal 29-30 Novmber 2019. Pembukaan acara dilakukan oleh Kepala BKSDA Bengkulu,Donal Hutasoit diwakili Kepala SKW I, Said Jauhari dan Kepala KPHK Bukit Kaba, Davit Hutahayan. Tujuan Kegiatan lomba lintas alam adalah memperkenalkan potensi wisata alam bukit kaba di kalangan generasi muda sekaligus  menumbuhkan kepedulian  terhadap kelestarian kawasan konservasi. Kegiatan ini diikuti 125 orang dari kalangan kelompok pencinta alam dan  pramuka seputaran wilayah propinsi bengkulu. Rangkaian Kegiatan Lomba Lintas Alam di TWA Bukit Kaba, meliputi ; - aksi penanaman jenis pohon di batas kawasan - pembersihan sampah di jalur jelajah wisata alam bukit kaba - sarasehan terkait dengan lingkungan hidup dan kehutanan - jelajah alam / treking di jalur pendakian di ...

KLHK dan Tim Gabungan Selamatkan Kawasan Cagar Alam Air Rami

BKSDA Bengkulu,  29 November 2019 Oleh : Mardiansyah, SP (Polhut Pertama) FOR IMMEDIATE  RELEASE Contact Person             :  Said Jauhari, S.Hut, M.Si  Kepala Seksi Konservasi Wilayah I, BKSDA Bengkulu HP/WA:      081377508687 Email : saidjauhari1971@gmail.com Kepala BKSDA Bengkulu dan para pihak melakukan conferensi press di Cagar Alam Air Rami Provinsi Bengkulu memiliki Panjang pantai +/- 525 km, yang mana 228 km diantaranya merupakan Kawasan konservasi. Pada saat ini ancaman abrasi sudah dirasakan sangat parah, bahkan ada jalan beberapa ruas jalan yang harus dipindah dari pinggir pantai kearah daratan menjauh dari pantai. Hal ini terutama disebabkan rusaknya hutan pantai baik yang berada di luar Kawasan konservasi maupun yang berada di Kawasan konservasi (Taman Wisata Alam dan Cagar Alam). Cagar Alam (CA) Air Rami yang berada di pantai barat propinsi bengkulu di Desa...

Konsultasi Publik Rencana Penataan Blok Pengelolaan kawasan CA. Air Seblat, CA. Air Rami dan TWA Seblat

Seblat, Kamis 28 November 2019 bertempat di Aula Kantor Kecamatan Puteri Hijau, Kabupaten Bengkulu Utara telah dilaksanakan Konsultasi Publik Penataan Blok Pengelolaan dan Rencana Pengelolaan kawasan CA. Air Seblat, CA. Air Rami dan TWA Seblat yang berada dalam pengelolaan Seksi Konservasi Wilayah I, BKSDA Bengkulu. Konsultasi publik dibuka langsung oleh Kepala BKSDA Bengkulu, Donal  Hutasoit didampingi dgn Kepala SBTU, Suharno dan Kepala Seksi Konservasi Wilayah I, Said Jauhari. Kemudian paparan oleh Kasi. Penataan KPA Dit. PIKA (Penataan Blok dan Rencana Pengelolaan), Tim Penyusun dokumen blok (Rencana Penataan Blok Pengelolaan kawasan CA. Air Seblat, CA. Air Rami dan TWA Seblat) dan Tenaga Ahli dari Universitas Bengkulu, Agus Susatya, Ph.D  (Rencana Pengelolaan kawasan CA. Air Seblat, CA. Air Rami dan TWA Seblat); Peserta diskusi publik terdiri dari Dinas LHK Prov. Bengkulu, Bappeda, Dinas LH, Dinas Pariwisata, Kecamatan, Desa dan komunitas masyarakat di sekitar kawa...

MASALAH PEMBANGUNAN PERTANIAN DI INDONESIA

Dok. Persawahan di Desa Banjarsari, Pulau Enggano Oleh : Mardiansyah Pembangunan Pertanian adalah suatu proses yang ditujukan untuk selalu menambah produksi pertanian oleh tiap-tiap konsumen, yang sekaligus mempertinggi pendapatan dan produktivitas usaha tiap-tiap petani dengan jalan menambah modal dan skill untuk memperbesar turut campur tangannya manusia di dalam perkembangan tumbuh-tumbuhan dan hewan. Masalah pembangunan pertanian di tinjau dari beberapa aspek yaitu : 1.       Sumber Daya Manusia Kelemahan dalam sistem alih teknologi. Ciri utama pertanian modern adalah produktivitas, efisiensi, mutu dan kontinuitas pasokan yang terus menerus harus selalu meningkat dan terpelihara. Produk-produk pertanian kita baik komoditi tanaman pangan (hortikultura), perikanan, perkebunan dan peternakan harus menghadapi pasar dunia yang telah dikemas dengan kualitas tinggi dan memiliki standar tertentu. Tentu saja produk dengan mutu tinggi tersebut dihas...